Kamis, 15 Juli 2010

NEUROFIBROMA

DEFINISI
Neurofibroma adalah benjolan (tumor) yang berisi jaringan saraf dan bersifat jinak.
Neurofibroma merupakan tumor saraf tersering.
Neurofibroma pada banyak lokasi di tubuh dapat terjadi pada Neurofibromatosis Von Recklinghausen.

GEJALA DAN TANDA
• Neurofibroma dapat muncul di beberapa bagian tubuh, misalnya di bawah kulit atau dapat timbul di tulang. Lokasi biasanya di badan, tangan, maupun kaki.
• Benjolan di bawah kulit tumbuh secara lambat, kadang terasa nyeri atau seperti terkena sengatan listrik.
• Biasanya tidak menimbulkan gangguan saraf.
• Kadang-kadang tertutup bercak-bercak kulit kehitaman (terkenal dengan istilah cafe-au-lait spot)
• Dapat muncul pada segala usia, biasanya timbul antara usia 20-30 tahun.
• Jika diperiksa di bawah mikroskop, makan sel yang ditemukan berjenis sama dengan sel saraf.

PENYEBAB
Belum jelas. Pada sindrom kongenital yang langka (Neurofibromatis von Recklinghausen) terdapat kenaikan insiden.

TERAPI
• Umumnya dibiarkan jika tidak mengganggu.
• Dilakukan pembedahan jika hanya ditemukan satu benjolan.
• Jika ditemukan banyak benjolan, diperlukan persipan lebih matang untuk pembedahannya (eksisi paliatif), untuk menilai lebih lanjut saraf yang mungkin terlibat.
• Bila neurofibroma tidak mengenai serabut saraf besar, saraf yang mengandung tumor biasanya dioperasi. Bila terkena serabut saraf besar maka, maka tumor dipisahkan dari serabut saraf lalu kemudian diangkat atau dibiarkan bila tidak ada keluhan.

KOMPLIKASI
• Neurofibroma dapat berulang.
• Berbentuk kurang bagus, biasanya menggelayut (menarik ke bawah) kelopak mata, hidung, mulut, dan sebagainya sehingga mungkin perlu konsultasi dengan dokter bedah plastik untuk terapi lebih lanjut.
• Terdapat kecenderungan untuk menjadi ganas.

PENCEGAHAN
Sampai saat ini belum ada metode untuk mencegah neurofibromatosis.

SUMBER REFERENSI
• dr.Gentur Sudjatmiko,SpBP. Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi. Yayasan Khasanah Kebajikan.2010;50-2.
• Stephen J. McPhee, et al. Current Medical Diagnosis & Treatment. Lange. 2007;1030
• UCLA Health System Neurosurgery. (Online). Dapat diakses di: http://neurosurgery.ucla.edu/body.cfm?id=187
• Langone Medical Centre. (Online). Dapat diakses di: http://www.med.nyu.edu/conditions-we-treat/conditions/neurofibromatosis


dr. Maria Valentine
31.2.1.100.1.10.109750
marval85@yahoo.com

Senin, 05 Juli 2010

HUBUNGAN “INFORMED CONSENT” DENGAN TINGKAT CEMAS PADA KLIEN PRA-BEDAH ELEKTIF DI RUANG BEDAH

Tindakan operasi merupakan salah satu bentuk terapi medis yang terbagi dalam 3 periode, yaitu : sebelum operasi, selama operasi dan sesudah operasi. Periode sebelum operasi dimulai dari diambilnya keputusan untuk tindakan operasi sampai klien dipindahkan kemeja operasi. Selama peiode ini fisik dan psikis klien disiapkan untuk tindakan operasi, satu hal yang dilakukan dalam perawatan sebelum operasi adalah mendidik klien apa yang perlu mereka ketahui. Periode selama operasi dimulai dari klien dimeja operasi sampai dipindahkan keruang pulih sadar.

Tindakan bedah secara umum dikelompokkan dalam tiga kategori, menurut urgency (mendesak), Risk (resiko) dan purpose (maksud). Lanjutan dari bedah urgency diklasifikasikan dalam tiga tipe : urgent, elektif (berencana) dan optional. Bedah urgent diputuskan karena alasan kesehatan dan keselamatan jiwa, seperti pembuangan apendiks. Bedah elektif (berencana) adalah suatu tindakan operasi bukan karena ancaman dan telah direncanakan beberapa minggu atau bulan sebelumnya seperti tindakan-tindakan meluruskan jari yang bengkok. Bedah optional dilakukan atas permintaan klien walaupun hal itu tidak begitu penting bagi kesehatan seperti operasi plastik pada wajah yang hanya untuk alasan pskologis.

Tingkatan dari resiko diklasifikasikan dalam bedah mayor dan bedah minor menurut tingkatan resiko pada klien. Bedah mayor beresiko tinggi, untuk beberapa alasan karena kehilangan banyak darah, pada organ yang penting atau komplikasi setelah operasi sering terjadi. Sedangkan bedah minor meliputi resiko yang rendah, mengakibatkan sedikit komplikasi.

Tipe dari pembiusan ada dua, yaitu pembiusan umum dan pembiusan lokal. Pada pembiusan umum terjadi kehilangan kesadaran dan sensasi pada pembiusan ini memblok pusat kesadaran yaitu otak sehigga mengakibatkan amnesia, analgesia, hipnosis, dan relaksasi. Pada pembiusan lokal terjadi kehilangan sensasi pada satu daerah tubuh dan klien dalam keadaan sadar.

Tindakan bedah adalah ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang dapat membangkitkan reaksi stres baik fisiologis maupun psikologis. Stres adalah respon fisiologis dan psikologis dalam menghadapi stressor. Kecemasan adalah respon stres bila ada stressor. Reaksi stres fisiologis ada hubungan langsung dengan bedah, lebih ektensif bedah itu lebih besar respon fisiologisnya. Respon psikologis sesungguhnya tidak ada hunbungan langsung. Prosedur bedah relatif kecil seperti pengangkatan kista di wajah dapat memicu respon psikologis yang lebih besar dari pada mengangkat organ seperti limpa terdapat masalah parut yang potensial.

Banyak tujuan dari tindakan operasi. Dokter bedah menjelaskan metode dan tujuan operasi kepada klien dan keluarganya. Karena periode sebelum operasi merupakan saat peningkatan cemas pada klien dan keluarganya, mungkin karena mereka tidak mengerti alasan mengapa harus dioperasi dan memerlukan penjelasan yang lebih baik.

Minggu, 04 Juli 2010

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA PADA IBU HAMIL

Anemia adalah kondisi dimana jumlah sel darah merah berkurang dan atau konsentrasi haemoglobin dalam sel berkurang, yang mengakibatkan transportasi oksigen di seluruh tubuh juga berkurang (Puline Mccall Sellers, ).

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 style="" lang="IN">

Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%.

Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002).

2.2 Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

2.2.1 Anemia Defisiensi Zat Besi

Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.

a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).

b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).

Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Hb 11 gr% : Tidak anemia

2. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

3. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang

4. Hb <>

Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

2.2.2 Anemia Megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12. Pengobatannya:

a. Asam folik 15 – 30 mg per hari

b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari

c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari

d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

2.2.3. Anemia Hipoplastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

2.2.4. Anemia Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.

2.3 Tanda-tanda Klinis Anemia

Gejala klinis umum berikut di observasi dari wanita yang menderita anemia:

1. Insomnia, ini terjadi karena haemoglobin yang menurun dan penurunan oksigen dan akibat dari penurunan metabolisme yang ditransportasikan ke seluruh bagian tubuh.

2. Lassitude, ini terjadi karena penurunan oksigen dan energi dan ibu hamil menjadi sangat cepat lelah.

3. Sesak nafas, sangat jelas terlihat bahkan ketika mengeluarkan tenaga sedikit karena penurunan suplai darah.

4. Kepucatan pada membran mukosa, kulit dan kuku, terjadi karena penurunan sel darah merah di perifer.

2.4 Penyebab Anemia

Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diit

3. Malabsorpsi

4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain

5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

Penyebab spesifik Anemia

Penyebab spesifik dari Anemia defisiensi zat besi

  1. Ini Sangat penting untuk di ingat pada kehamilan. Terjadi kenaikan kebutuhan untukuk zat besi, yang tidak selalu ditemukan

Disamping kondisi fisiologis, kenaikan zat besi selama kehamilan tidak selalu ditemukan, kondisi abnormal berikut menyebabkan kekurangan zat besi lebih lanjut dan akhirnya mengakibatkan anemia defisiensi zat besi.

  1. Penurunan asupan zat besi sebagai akibat dari jenis diet, misalnya kebiasaan makan, pantangan makanan, kebiasaan memasak.
  2. Penurunan absorpsi zat besi sebagai akibat dari masalah gastrointestinal (diare dan muntah-muntah) atau penambahan asupan dari alkali untuk mengurangi rasa panas dalam perut, yang mengurangi penyerapan zat besi. Demam dan INTESTINAL HURRY mengganggu asupan, penyerapan dan pemanfaatan zat makanan
  3. Penurunan asupan dan penyerapan vitamin C.

Penyebab spesifik dari anemia defisiensi asam folik

  1. Penurunan asupan dari asam folik dalam diet menyebabkan penurunan asupan makanan.
  2. Asam folik tidak dapat disimpan dalam tubuh, oleh karena itu kebutuhan dalam tubuh harus tetap.
  3. Multipara
  4. Infeksi
  5. Penyakit haemolisis

2.5 Dampak Anemia pada Ibu Hamil dan Janin

Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: Abortus, Missed Abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.

2.2 Gejala Anemia Pada Ibu Hamil

Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

2.5 SIMPULAN

Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi। Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.


KEPUSTAKAAN

Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC

Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC

Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC

Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 24 Februari, 2006. Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP

Winkyosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP